suara salam menutup mata kuliah hari itu
menapaki perjalanan bekasi - TB Simatupang
jalan hari itu lebih padat
mencoba mengingat dan berfikir dalam lamunanku
pulang dan pergi sendirian
tidak, aku tidak kesepian
ada suara lagu sayup-sayup terdengar dari headset ku
lagu aliran folk dan kadang koplo
semua hanya angin lalu
aku tidak menikmatinya
dia hanya sebagai pengganti, bahwa aku tidak kesepian
sungguh
sepanjang jalan hal yg palig kusuka lakukan adalah melamun!
atau...
mungkin mengingat kamu
kamu apa kabar?
apa kebiasaan melepas sebelah kaitan tasmu saat naik motor masih ada?
atau kebiasaan mu yang memberi puisi saat malam datang
atau mungkin yang menelfon saat dini hari, ketika aku sedang begadang mengerjakan tugas?
maaf karena terlambat menyadari
maaf karena acuh
bohong bila semua ku anggap lalu
bahwa nyatanya kamu selalu
221219
Orkideo Cattleya
Minggu, 22 Desember 2019
Jumat, 22 November 2019
elusif
dibawah bulan purnama, dengan sengaja aku memakai baju bergaris biru. dengan maksud agar aku mendapatkan perhatianmu
memakai sepatu bagus dengan merek terkenal se Eropa raya, bahkan sudah mendunia juga merek sepatu ini
tiba waktunya, aku terbujur kaku di depan kedai kopi tempat kita pertama kali memulai janji
dai jauh sudah habis terbujur kaku aku memandangimu. terletak di sudut kecil ruang kedai kamu berduduk santai dengan memainkan kacamata mu. jelas betul itu kamu, sapaan mengiyakan orang yg meminjam bangku di sebelahmu telah sukses membuat jantungku berdegub kencang
namun, aku harus lebih berani. aku tidak akan kalah berani dengan puisi-puisiku sendiri yang sering ku kirim padamu.
selangkah demi selangkah aku memantabkan hati, dan seraya menegakkan kepala, dan tanganku yang sok asik memainkan tote bag yang ku tenteng.
"nah, habis sudah aku didepanmu. ternyata aku menyesali janji. seharusnya aku tidak membuat janji yang seperti ini." kata ku
"janji? ini kesepakatan kita. kita sedang tidak berjanji tho. duduk sini. selesaikan tujuanmu."
"sialan. tujua apa?"
"ya tujuanmu datang kesini. selesaikan dengan duduk terlebih dahulu, sementara kamu duduk-duduk sebentar, aku mengambil menu untukmu."
"homo sapiens"
"what.. what did you say?"
"engga, tadi aku ngelantur."
"ohh, sebentar ya pak. tahan dulu."
"sialan."
sikap dia memang selalu membuatku tidak tahan. aku terpesona walau hanya dengan kedipan matanya.
_acw
anggap saja rumah
hari itu aku keluar rumah
merasakan sejuknya
angin
bertiup searah mata angin
pagi ini cuaca mendung
aku bergegas
suara klakson jalan raya tak mampu membuyarkan lamunan ku
sepanjang jalan aku merasakan pening akibat khawatir
beberapa kali menghela nafas
menghitung mundur
bahwa semua akan baik-baik saja
yak!
ku parkirkan kendaraan
memasuki ruangan
menyapa wajah-wajah asing
tersenyum, berbincang garing
aku tak mendengar teriakan
atau suara bising deru mesin yg memekak-an
hanya terdengar suara gesekan spidol dengan lembaran buku yg di buka bolak balik
lagi
suara ini mengganggu
dia berdetak dengan tak beraturan
garis muka ku tegang
oh ini yang dinamakan keluar dari rumah
nyamanku
-fns 221119
Selasa, 09 April 2019
sebuah opini #1
berkalungkan sorban
penutup kepala bewarna hitam legam
baju putih dengan bordiran disaku
disampingnya
wanita indah
berbaju menjuntai sampai tanah
khimar dan bajunya beradu panjang
cantik
anggun
merasa terlindungi
mengelu-elukan itp
tapi
mendua ia perbolehkan?
maaf
beribu maaf
aku tidak mengakukan kamu
Bekasi, 09 April 2019
ombak dengan arus laut
izinkan aku menulis rinduku wahai bunga permata sukma
tak habis fikirku membayang bagai karang
yang sama tak habis diterpa berulang-ulang
indah bagai senja waktu itu di Jogja istimewa
dari ombak, dalam, senyum tawanya
begitu abadi.
kataku dalam diam
sejuk indah mewangi senyummu
gurun pasir menghitam kelam dalam
hanya satu pinta warnaku sudah tercukupi untukmu
dari arus laut, dalami novelnya yang mistik
Juni, 2018
Jogja dan kamu
Blora juni
pagi sekali ia bergegas
diselangi guyuran air ditubuh, ia berfikir
apa iya atau tidak?
nalarku mengapkir kala itu
pudak, tempat aku memulai semua
dia begitu lihai membakuti cemasku
senja menguning solo jogjakarta
menyatu
begitu mengalir
alirannya begitu deras, tak terbendung ku akui
hampir saja terapung-apung
wahai kaum ektremis,
terima kasih
begitu,
indah kamu dan dia
ah, mulai lagi dia
Juni, 2018
Senin, 08 April 2019
Rindukah?
seribu macam alasan
alasan beribu-ribu macam
sadar diri
aku mencoba untuk tenang
dan berserah
seperti diksi buatan-Mu
pelangi,
ajaranmu
terus mengikis waktu yang tidak berlangsung lama
menghibur sejenak bumi
senja setiap hari
tapi apakah mungkin
mungkin saja menurutku
bulan dan bintang jauh berjarak
kamu aku lama berpisah
lama menurutku
2/3 hari lamanya
jarak itu ternyata memungkinkan semunya
aku dan alam semesta
aku dan kamu hasilnya
kangen
hasil dari jarak itu
pohon yang sering kita lewati
semuanya bercerita tentang kita rupanya
berbisik satu sama lain
pohon lain pun menimpali
kita menjadi obrolan mereka
batu tetap saja terdiam
tak beranjak dari tempatnya
tapi dia penangkap momen yang akurat
walaupun buku lebih baik
aku tetap memilih jadi batu
karena disana terdapat struktur
sejarah seni alam raya
hasil dari berbagai hasil
dan akhirnya terdiam membisu
kangen
dia mulamya didalam gunung
sekarang
batu dipinggir jalan raya
menetap
menatap
mantap
kita
sebagai makhluk yang saling memadu kasih
punya mimpi bersama
alam semesta
merestui kita
08 April 2019 (20:56)
Langganan:
Komentar (Atom)