Jumat, 22 November 2019

elusif

dibawah bulan purnama, dengan sengaja aku memakai baju bergaris biru. dengan maksud agar aku mendapatkan perhatianmu

memakai sepatu bagus dengan merek terkenal se Eropa raya, bahkan sudah mendunia juga merek sepatu ini

tiba  waktunya, aku terbujur kaku di depan kedai kopi tempat kita pertama kali memulai janji

dai jauh sudah habis terbujur kaku aku memandangimu. terletak di sudut kecil ruang kedai kamu berduduk santai dengan memainkan kacamata mu. jelas betul itu kamu, sapaan mengiyakan orang yg meminjam bangku di sebelahmu telah sukses membuat jantungku berdegub kencang

namun, aku harus lebih berani. aku tidak akan kalah berani dengan puisi-puisiku sendiri yang sering ku kirim padamu.

selangkah demi selangkah aku memantabkan hati, dan seraya menegakkan kepala, dan tanganku yang sok asik memainkan tote bag yang ku tenteng.

"nah, habis sudah aku didepanmu. ternyata aku menyesali janji. seharusnya aku tidak membuat janji yang seperti ini." kata ku

"janji? ini kesepakatan kita. kita sedang tidak berjanji tho. duduk sini. selesaikan tujuanmu."

"sialan. tujua apa?"

"ya tujuanmu datang kesini. selesaikan dengan duduk terlebih dahulu, sementara kamu duduk-duduk sebentar, aku mengambil menu untukmu."

"homo sapiens"

"what.. what did you say?"

"engga, tadi aku ngelantur."

"ohh, sebentar ya pak. tahan dulu."

"sialan."

sikap dia memang selalu membuatku tidak tahan. aku terpesona walau hanya dengan kedipan matanya.

_acw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar