Selasa, 09 April 2019

sebuah opini #1

berkalungkan sorban
penutup kepala bewarna hitam legam
baju putih dengan bordiran disaku

disampingnya
wanita indah
berbaju menjuntai sampai tanah
khimar dan bajunya beradu panjang

cantik
anggun
merasa terlindungi

mengelu-elukan itp
tapi 
mendua ia perbolehkan?

maaf
beribu maaf 

aku tidak mengakukan kamu

Bekasi, 09 April 2019

ombak dengan arus laut

izinkan aku menulis rinduku wahai bunga permata sukma
tak habis fikirku membayang bagai karang
yang sama tak habis diterpa berulang-ulang
indah bagai senja waktu itu di Jogja istimewa
dari ombak, dalam, senyum tawanya
begitu abadi. 
kataku dalam diam
sejuk indah mewangi senyummu
gurun pasir menghitam kelam dalam
hanya satu pinta warnaku sudah tercukupi untukmu

dari arus laut, dalami novelnya yang mistik


Juni, 2018

Jogja dan kamu

Blora juni
pagi sekali ia bergegas
diselangi guyuran air ditubuh, ia berfikir
apa iya atau tidak?
nalarku mengapkir kala itu

pudak, tempat aku memulai semua
dia begitu lihai membakuti cemasku

senja menguning solo jogjakarta
menyatu
begitu mengalir
alirannya begitu deras, tak terbendung ku akui
hampir saja terapung-apung

wahai kaum ektremis,
terima kasih
begitu,
indah kamu dan dia
ah, mulai lagi dia


Juni, 2018

Senin, 08 April 2019

Rindukah?

seribu macam alasan
alasan beribu-ribu macam

sadar diri
aku mencoba untuk tenang
dan berserah
seperti diksi buatan-Mu

pelangi,
ajaranmu
terus mengikis waktu yang tidak berlangsung lama

menghibur sejenak bumi
senja setiap hari
tapi apakah mungkin
mungkin saja menurutku

bulan dan bintang jauh berjarak
kamu aku lama berpisah
lama menurutku
2/3 hari lamanya

jarak itu ternyata memungkinkan semunya
aku dan alam semesta
aku dan kamu hasilnya

kangen
hasil dari jarak itu

pohon yang sering kita lewati
semuanya bercerita tentang kita rupanya
berbisik satu sama lain

pohon lain pun menimpali
kita menjadi obrolan mereka
batu tetap saja terdiam
tak beranjak dari tempatnya
tapi dia penangkap momen yang akurat

walaupun buku lebih baik
aku tetap memilih jadi batu
karena disana terdapat struktur
sejarah seni alam raya
hasil dari berbagai hasil
dan akhirnya terdiam membisu

kangen

dia mulamya didalam gunung
sekarang
batu dipinggir jalan raya

menetap
menatap
mantap

kita
sebagai makhluk yang saling memadu kasih
punya mimpi bersama
alam semesta
merestui kita


08 April 2019 (20:56)